SaṁyuttaNikāya. Kelompok Khotbah tentang Māra. 4.7. Tidur. Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, di Taman Suaka Tupai. Kemudian, ketika malam berakhir, Sang Karenasegala sesuatu selalu berubah, maka sesungguhnya Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha itulah inspirasi bagi kita. Dhamma itulah penunjuk jalan bagi kita, seperti yang telah Sang Buddha nyatakan dalam Dhammapada syair 276, "Engkau sendirilah yang harus berusaha, Tath?gata hanyalah menunjukkan jalan. Home/ Artikel / Kesiapan Mental Dalam Menghadapi Pandemi Dari Perspektif Agama Buddha Re Dhammapada Atthakatha. Syair 309-310 ( XXII:4. Kisah Khemaka, Anak Laki-laki Seorang Kaya) Khemaka, selain kaya, juga sangat tampan dan banyak wanita sangat tertarik kepadanya. Banyak wanita tidak dapat menolak keinginan nafsu seksualnya sehingga mereka menjadi korban pelecehan seksual. Khemaka melakukan perzinaan tanpa penyesalan. Yangpertama syair pendidikan tentang pentingnya pendidikan untuk masa depan. Yang kedua, syair pendidikan tentang semangat belajar. Dan yang ketiga, syair pendidikan tentang pentingnya berperilaku baik. Untuk Masa Depanmu. Karya Gina Hayana Diterbitkan hanya oleh syairko [1] Dengarlah wahai anakanda Rajinlah belajar sepanjang masa Asadha Lestarikan Dhamma Demi Kebahagiaan. Selasa, 15 Juli 2008. Bhagavant.com, Jakarta, Indonesia - Setelah dua bulan berlalu dari bulan Vesak, kini tiba saatnya umat Buddha kembali memperingati peristiwa penting di bulan Juli ini. Sebuah peristiwa dimana Sang Buddha membabarkan Dhamma yang Ia temukan kembali untuk pertama kalinya. . Dhammapada Syair Kebahagiaan Sukha Vagga01/197 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa membenci, di antara orang-orang yang membenci. Di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa membenci. 02/198 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa penyakit, di antara orang-orang yang berpenyakit. Di antara orang-orang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. 03/199 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, di antara orang-orang yang serakah. Di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan. Baca kisah perdamaian para kerabat Sang Buddha yang tengah berseteru . 04/200 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kita akan hidup bagaikan dewa brahma yang tinggal di alam cahaya. Baca kisah Mara menghasut para penduduk. 05/201 Kemenangan menimbulkan permusuhan, yang kalah hidup di dalam kesedihan. Kehidupan damai akan diperoleh dengan meninggalkan kemenangan dan kekalahan. Baca kisah kekalahan raja Pasenadi. 06/202 Tiada api yang menyamai nafsu, tiada kejahatan yang menyamai kebencian, tiada derita yang menyamai Lima Kelompok Kehidupan, tiada kebahagiaan yang menyamai Nibbana. Baca kisah sepasang pengantin baru. 07/203 Kelaparan adalah hal yang paling menyakitkan, Kelompok Kehidupan adalah sumber penyakit terparah, orang bijaksana yang mengetahui hal itu sebagaimana adanya, akan mencapai nibbana, kebahagiaan tertinggi. Baca kisah seorang upasaka. 09/205 Dengan merasakan penyepian dan kedamaian nibbana, seseorang yang meminum kenikmatan intisari Dhamma, akan bebas dari ketakutan dan kejahatan. Baca kisah biksu Tissa. 10/206 Adalah sangat baik bila bertemu dengan orang suci, hidup bersama mereka akan selalu menyenangkan, tidak bertemu dengan orang bodoh, juga adalah hal yang menyenangkan. 11/207 Ia yang berjalan bersama dengan orang-orang bodoh, akan berduka dalam waktu yang lama, hidup bersama orang-orang bodoh akan menyakitkan, bagaikan hidup bersama musuh, hidup bersama orang bijaksana akan membahagiakan, bagaikan hidup bersama sanak saudara. 12/208 Oleh karena itu, seseorang harus mengikuti orang-orang suci yang tegas, pandai, terpelajar, tekun, dan patuh, ikutilah orang yang suci dan bijaksana seperti itu, bagaikan bulan mengikuti peredaran bintang-bintang. Baca kisah Sakka, raja para dewa alam Trayastrimsa. Hidup ini sangat singkat, usia kita semakin bertambah dan kita pun semakin tua kekuatan menjadi lemah dan kita semakin dekat dengan kematian. Cobalah untuk merenungkan tentang hal ini sedikit. Mulailah untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sampai pada hari ini, sudah tidak terhitung lamanya kita berada di alam sa?sara ini untuk mencari kebahagiaan, tetapi kenyataannya lebih banyak penderitaan yang kita dapatkan. Sekarang ini adalah kesempatan yang baik, di mana kita jadi manusia dan bertemu dengan Dhamma ajaran Sang Buddha. Kesempatan ini adalah hal yang sulit untuk diperoleh tapi walaupun sulit kita sudah mendapatkannya, oleh sebab itu berjuanglah sungguh-sungguh selama kesempatan masih ada. Setidaknya kita berusaha untuk tidak jatuh ke empat alam menyedihkan. Bergegaslah untuk berbuat kebajikan, karena bagaimanapun hidup di dunia ini tidak kekal. Hidup ini tidak hanya untuk mencari harta, kedudukan, perolehan, dan ketenaran. Meski memiliki kekayaan sebanyak apa pun, pada akhirnya tidak ada satu pun yang bisa dibawa pergi. Hanya kamma baik dan kamma buruklah yang akan setia menjadi pengikut menuju kehidupan berikutnya. Kalau kita memiliki tabungan kamma baik yang banyak, maka akan dapat mengantarkan kita ke alam yang bahagia dan jika tidak, maka kita akan jatuh ke alam menderita. Masihkah kita akan menunda waktu untuk berbuat kebajikan? Kita tidak tahu masih berapa lama sisa kehidupan yang kita miliki di dunia ini, dan kita juga tidak tahu sudah berapa banyak saldo kebajikan yang kita miliki. Oleh karena itu jangan menunda-nunda waktu, lakukanlah perbuatan baik selama kita bisa. Berbuat baik bisa dengan berdana, menjalankan moralitas, dan mengembangkan batin. Ada sebuah perumpamaan tentang gagak yang malang. Kisah ini di ambil dari isi Sona-Jataka No. 529. Suatu ketika seekor burung gagak bodoh melihat seekor bangkai gajah yang besar yang mengapung dan terbawa arus di sungai Gangga. Diliputi oleh keserakahan, dia berpikir, “itu adalah gudang makanan yang luar biasa, aku akan tinggal di sana siang dan malam dan menikmati kebahagiaan hidup.” Maka, hanya dia yang terbang ke sana dan berdiam di bangkai tersebut. Siang dan malam dia hanya menikmati kebahagiaan hidupnya dengan makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Dia bagaikan mabuk kesenangan, sehingga walaupun di sepanjang pinggir sungai terdapat banyak desa-desa makmur dengan vihara-viharanya yang indah dan megah dilewatinya, dia tidak menghiraukannya sama sekali, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalannya waktu, bangkai tersebut semakin habis dan dia pun semakin tua serta sulit terbang. Akhirnya, ketika bangkai tersebut sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana, bangkai tersebut tidak dapat lagi menopangnya. Dia berusaha terbang. Dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak olehnya. Di sana, di tengah lautan luas dia terjatuh dan langsung dimangsa oleh para penghuni lautan ganas. Makna dari kisah gagak yang malang ini adalah sebagian manusia yang bodoh dan malas bagaikan si burung gagak bodoh. Mereka terlahir sebagai manusia dengan keadaan yang baik dan berkecukupan bagaikan si gagak yang mendapatkan seekor bangkai gajah yang besar. Mereka siang dan malam selalu berusaha untuk memuaskan nafsu indranya tanpa memedulikan bahwa usianya semakin tua dan semakin dekat dengan kematian. Hal ini bagaikan si gagak yang siang dan malam hanya makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Mereka tidak menghiraukan keberadaan Buddha Sasana dan juga sama sekali tidak terpikir oleh mereka untuk melakukan kebajikan. Hal ini bagaikan si gagak yang tidak menghiraukan desa-desa makmur dengan vihara-vihara yang indah dan megah, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalan-nya waktu, berkah kamma baiknya mereka semakin berkurang, usianya semakin tua, dan kemampuannya dalam berusaha juga semakin berkurang. Hal ini bagaikan si gagak yang mulai kehabisan bangkai, usianya semakin tua, dan sulit terbang. Berada di akhir kehidupan, jauh dari kebajikan, dan kamma baik juga tidak kuat lagi menyokong hidupnya. Hal ini bagaikan si gagak yang sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana dan bangkai tempatnya berdiam juga tidak dapat lagi menopangnya. Pada umumnya, ketika mereka telah tua, di saat menjelang kematian, mereka baru sadar dan menyesal, mereka berusaha bertahan hidup dan melakukan kebajikan, tetapi semuanya telah terlambat. Hal ini bagaikan si gagak yang berusaha terbang dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak. Mereka meninggal dalam kegelisahan dan kebingungan, buah kamma buruk menyerbunya, dan mereka terjatuh ke alam menderita yang sangat-sangat menderita. Hal ini bagaikan si gagak terjatuh di tengah lautan luas dan langsung dimangsa oleh penghuni lautan yang ganas. Demikianlah kebiasaan sebagian besar manusia, kita sering lupa bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara. Ketika masih muda dan kuat menyia-nyiakan kesempatan untuk berlatih dalam kebaikan, ketika tua dan lemah baru ingat betapa pentingnya berlatih, betapa pentingnya kebajikan tapi sayang mereka sudah terlalu tua, mau datang ke vihara sudah tidak bisa berjalan, mau berbuat baik sudah terlalu lemah. Akhirnya hanya bisa menjalani sisa hidup dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Oleh karena itu Buddha menyampaikan dalam syair Dhammapada “bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan, barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan”. Dua syair ini, syair 153 dan 154 Kitab Suci Dhammapada, adalah ungkapan tulus dan mendalam dari kebahagiaan yang dirasakan Sang Buddha pada saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Syair-syair ini diulang di Vihara Jetavana atas permintaan dari Yang Ariya Ananda. Pangeran Siddhattha, dari keluarga Gotama, anak dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari kerajaan suku Sakya, meninggalkan keduniawian pada usia 29 tahun dan menjadi pertapa untuk mencari Kebenaran Dhamma. Selama 6 tahun Beliau mengembara di Lembah Gangga, menemui pemimpin-pemimpin agama yang terkenal, belajar ajaran dan metodenya. Beliau hidup dengan keras dan menyerahkan dirinya pada peraturan pertapaan yang keras. Tetapi ia merasa semua latihan itu tidak berguna. Akhirnya, Beliau memutuskan untuk menemukan kebenaran dengan jalannya sendiri, dan menghindari dua jalan ekstrim dari pemuasan kenikmatan yang berlebihan dan penyiksaan diri sendiri. Beliau menemukan “Jalan Tengah”, yang menuju kebebasan mutlak, nibbana. Jalan Tengah ini adalah jalan mulia berfaktor delapan, yaitu Pengertian Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Mata pencaharian Benar, Daya-upaya Benar, Kesadaran Benar, dan Konsentrasi Benar. Pada suatu sore, duduk di bawah pohon Bodhi, di tepi Sungai Neranjara, Pertapa Siddhattha Gotama mencapai “Penerangan Sempurna” Bodhi-nana atau Sabbannutanana pada usia tiga puluh lima tahun. Pada saat malam jaga pertama, Siddhattha mencapai kemampuan batin pengetahuan kelahiran-Nya sendiri yang lampau Pubbenivasanussati-nana. Pada saat malam jaga kedua, Beliau mencapai kemampuan batin pengetahuan penglihatan tembus Dibbacakkhu-nana. Kemudian pada malam jaga ketiga, Beliau memahami hukum sebab akibat yang saling bergantungan Patticcasamuppada dalam hal kemunculan Anuloma demikian pula pengakhiran Patiloma. Menjelang fajar, Siddhattha Gotama dengan kemampuan akal-budinya, dan pandangannya yang terang mampu menembus pengetahuan “Empat Kebenaran Mulia”. Empat Kebenaran Mulia adalah kebenaran mulia tentang penderitaan Dukkha Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan Dukkha Samudaya Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang akhir penderitaan Dukkha Nirodha Ariya Sacca, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju akhir penderitaan Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca. Terdapat juga dalam diri Beliau, dengan segala kemurniannya, pengetahuan tentang keberadaan “kebenaran mulia” Sacca-nana, pengetahuan tentang perlakuan yang diharapkan terhadap “kebenaran mulia” itu Kicca-nana dan pengetahuan tentang telah dipenuhinya perlakuan yang diharapkan terhadap “kebenaran mulia” itu Kata-nana, dengan demikian Beliau mencapai “Sabbannuta-nana” Bodhi-nana dari seorang Buddha. Sejak saat ini Beliau dikenal sebagai Buddha Gotama. Dalam hal ini, perlu dicatat jika “Empat Kebenaran Mulia”, dengan tiga aspek tersebut di atas jadi keseluruhan ada 12 cara telah benar-benar jelas bagi Beliau, barulah Sang Buddha mengumumkan kepada umat manusia, para dewa, dan para brahma, bahwa Beliau telah mencapai “Penerangan Sempurna”, dan menjadi seorang “Buddha”. Pada saat pencapaian tingkat ke-Buddha-an, Beliau membabarkan syair 153 dan 154 berikut ini “Dengan melalui banyak kelahiran aku telah mengembara dalam samsara siklus kehidupan. Terus mencari, namun tidak kutemukan pembuat rumah ini. Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini. O, pembuat rumah, engkau telah ku lihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh atapmu telah runtuh dan tiangmu belandarmu telah patah. Sekarang batinku telah mencapai “Keadaan Tak Berkondisi” Nibbana. Pencapaian ini merupakan akhir daripada nafsu keinginan.” oleh Dwi Purnomo dan Rendy Arifin Mengawali bulan Mei 2018, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri STABN Sriwijaya Tangerang mengadakan kegiatan one day reading Dhammapada atau sehari membaca Dhammapada. Kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa semester 6 ini dilakukan di lobi kampus STABN Sriwijaya Tangerang dan diikuti oleh 25 mahasiswa. Kegiatan One day reading Dhammapada ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dalam hal membaca Dhammapada. Dengan membaca ini pula, diharapkan mahasiswa dapat memahami intisari dari Dhammapada tersebut dan dapat menerapkannya dalam berbagai sendi kehidupan. Dhammapada itu sendiri merupakan salah satu bagian dari kitab suci Agama Buddha yang terdapat dalam Khuddaka Nikāya, Sutta Pitaka. Berisikan syair-syair indah kehidupan, Dhammapada terdiri dari 26 vagga bab yang dikemas dalam sebuah buku. Bab-bab tersebut diantaranya Yamaka Vagga Syair Berpasangan, Appamada Vagga Kewaspadaan, Citta Vagga Pikiran, Puppha Vagga Bunga-bunga, Bala Vagga Orang Bodoh, Pandita Vagga Orang Bijaksana, Arahanta Vagga Arahat, Sahassa Vagga Ribuan, Papa Vagga Kejahatan, Danda Vagga Hukuman, Jara Vagga Usia Tua, Atta Vagga Diri Sendiri, Loka Vagga Dunia, Buddha Vagga Buddha, Sukha Vagga Kebahagiaan, Piya Vagga Kecintaan, Kodha Vagga Kemarahan, Mala Vagga Noda-Noda, Dhammattha Vagga Orang Adil, Magga Vagga Jalan, Pakinnaka Vagga Bunga Rampai, Niraya Vagga Neraka, Naga Vagga Gajah, Tanha Vagga Nafsu Keinginan, Bhikkhu Vagga Bhikkhu, Brahmana Vagga Brahmana. Dalam pembacaan Dhammapada ini, mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok yang diatur bergantian untuk membaca setiap syair pali dengan arti Bahasa Indonesia-nya. Bhikkhu Ratanajayo dan Bhikkhu Pabhajayo turut hadir dan membimbing para mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Tak sedikit komentar dan masukan disampaikan oleh mereka, khususnya dalam hal tanda baca, tinggi rendah suara, kekompakkan dan alunan Magadha yang sesuai. Mahasiswa pun diminta untuk mengulang setiap ada pembacaan syair Dhammapada yang kurang tepat. Pembacaan Dhammapada ini juga merupakan bagian dari Pariyatti Dhamma mempelajari Dhamma, yang hakikatnya harus dilakukan oleh seorang mahasiswa, apalagi sebagai mahasiswa jurusan Dharma Acariya dan Dharma Duta. Terlepas dari itu, syair Dhammapada ini perlu dibacakan dan menyatu dalam kegiatan rohani umat Buddha, karena berisikan berbagai macam nasihat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti syair Dhammapada berikut Bab VI Pandita Vagga Orang Bijaksana 84 Seseorang yang arif, tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri atau pun orang lain, demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat atau keberhasilan dengan cara yang tidak benar. Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi. Kegiatan ini disambut positif oleh bhikkhu Sangha dan para dosen STABN Sriwijaya Tangerang, yang mana merupakan salah satu bagian dari pelestarian Dhamma, terlebih syair-syair Dhammapada belakangan ini hanya terdengar pada saat event-event tertentu, seperti hari raya agama Buddha dan perlombaan. Diharapkan syair-syair Dhammapada ini dapat kembali terdengar di vihara-cetiya seluruh Indonesia dengan menjadi bagian dari kegiatan rohani rutin umat Buddha. Kisah “Kata-kata Kebahagiaan Sang Buddha” Dua syair ini, syair 153 dan 154 Kitab Suci Dhammapada, adalah ungkapan tulus dan mendalam dari kebahagiaan yang dirasakan Sang Buddha pada saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Syair-syair ini diulang di Vihara Jetavana atas permintaan dari Yang Ariya Ananda. Pangeran Siddhatta, dari keluarga Gotama, anak dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari kerajaan suku Sakya, meninggalkan keduniawian pada usia 29 tahun dan menjadi pertapa untuk mencari Kebenaran Dhamma. Selama 6 tahun Beliau mengembara di lembah Gangga, menemui pemimpin-pemimpin agama yang terkenal, belajar ajaran dan metodenya. Beliau hidup dengan keras dan menyerahkan dirinya pada peraturan pertapaan yang keras. Tetapi Beliau merasa semua latihan itu tidak berguna. Akhirnya, Beliau memutuskan untuk menemukan kebenaran dengan jalannya sendiri, dan menghindari dua jalan ekstrim dari pemuasan kenikmatan yang berlebihan dan penyiksaan diri sendiri. Beliau menemukan Jalan Tengah’, yang menuju kebebasan mutlak, Nibbana. Jalan Tengah ini adalah Jalan Mulia Berfaktor Delapan, yaitu Pengertian Benar, Pikiran benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencarian Benar, Daya Upaya Benar, Kesadaran Benar, dan Konsentrasi Benar. Pada suatu sore, duduk di bawah pohon Bodhi, di tepi sungai Neranjara, Pertapa Siddhattha Gotama mencapai Penerangan Sempurna’ Bodhi-nana atau Sabbannuta-nana pada usia 35 tahun. Pada saat malam jaga pertama, Siddhattha mencapai kemampuan batin pengetahuan kelahiran-Nya sendiri yang lampau Pubbenivasanussati-nana. Pada saat malam jaga kedua, Beliau mencapai kemampuan batin pengetahuan penglihatan tembus Dibbacakkhu-nana. Kemudian pada malam jaga ketiga, Beliau memahami hukum sebab akibat yang saling bergantungan Paticcasamuppada dalam hal kemunculan Anuloma demikian pula pengakhiran Patiloma. Menjelang fajar, Siddhattha Gotama dengan kemampuan akal-budinya, dan pandangannya yang terang mampu menembus pengetahuan Empat Kebenaran Mulia’. Empat Kebenaran Mulia adalah kebenaran mulia tentang penderitaan Dukkha Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan Dukkha Samudaya Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang akhir penderitaan Dukkha Nirodha Ariya Sacca, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju akhir penderitaan Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca. Terdapat juga dalam diri Beliau, dengan segala kemurniannya, pengetahuan tentang keberadaan kebenaran mulia’ Sacca-nana, pengetahuan tentang perlakuan yang diharapkan terhadap kebenaran mulia’ itu Kicca-nana dan pengetahuan tentang telah dipenuhinya perlakuan yang diharapkan terhadap kebenaran mulia’ itu Kata-nana, dengan demikian Beliau mencapai Sabbannuta-nana’ Bodhi-nana dari seorang Buddha. Sejak saat ini Beliau dikenal sebagai Buddha Gotama. Dalam hal ini, perlu dicatat jika Empat Kebenaran Mulia’, dengan tiga aspek tersebut di atas jadi keseluruhan ada 12 cara telah benar-benar jelas bagi Beliau, barulah Sang Buddha mengumumkan kepada umat manusia, para dewa, dan para brahma, bahwa beliau telah mencapai Penerangan Sempurna’, dan menjadi seorang Buddha’. Pada saat pencapaian tingkat ke-Buddha-an, Beliau membabarkan syair 153 dan 154 berikut ini Dengan melalui banyak kelahiran aku telah mengembara dalam samsara siklus kehidupan. Terus mencari, namun tidak kutemukan pembuat rumah ini. Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini. O, pembuat rumah, engkau telah ku lihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh atapmu telah runtuh dan tiangmu belandarmu telah patah. Sekarang batinku telah mencapai Keadaan tak Berkondisi Nibbana’. Pencapaian ini merupakan akhir daripada nafsu keinginan.

syair dhammapada tentang kebahagiaan