BacaJuga Topik Terkait:Kumpulan Khutbah Jumat Bulan Muharram. 2. Bukan migrasi fisik. Peristiwa hijrah umat Muslim dari Makkah ke Madinah bukan sebatas migrasi fisik, tapi merupakan transformasi besar-besaran dalam berbagai aspek. Sehingga, Nabi berhasil membangun masyarakat Muslim lebih berdaya baik segi mental, moral, ekonomi, akidah, dan Iniadalah perjuangan yang besar. Bentuk perlawanan terhadap kaum musyrikin Mekah bahkan Jazirah Arab secara umum. Kehilangan nyawa sebuah resiko yang begitu terpapar di depan mata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. BACA JUGA: Dialah Wanita Tangguh yang Membantu Hijrah Nabi ke Madinah. Hijrah bukanlah melarikan diri. AbuBakar yang saat itu telah bersiap-siap untuk hijrah, diminta Rasulullah untuk ikut menemaninya. Setelah mengetahui kepergian para sahabat Rasulullah ke Madinah, kaum Quraisy mengalami kekalutan. Para pembesar Quraisy sepakat berkumpul. Pada pertemuan tersebut, semua utusan dari suku-suku Quraisy berupaya memadamkan cahaya dakwah yang dibawa MateriBab 11 Hijrah ke Madinah, Sebuah Kisah yang Membanggakan PAI Kelas 7 - Membahas Sebab Rasulullah Saw Hijrah, perjalanan Hijrah ke Madinah, Dakwah dan perjuangan Rasulullah Saw. di Madinah. Semua penduduk Madinah dijamin keselamatanya kecuali bagi yang berbuat jahat. Apahikmah di balik peristiwa hijrah ke madinah?sebutkan - 19293637 albarrakemal albarrakemal 13.11.2018 Sejarah 1 Pertama: perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki makna yang sangat berarti bagi setiap Muslim, karena hijrah merupakan tonggak kebangkitan Ketikaperistiwa hijrah para sahabat ini diketahui, kafir Quraisy begitu memarahi mereka kerana kaum muslimin telah mendapat perlindungan di tempat yang lain. Pada ketika itu, semua kaum muslimin pergi ke Madinah kecuali Rasulullah, Abu Bakar As-Siddiq, Ali bin Abu Talib, dan orang-orang sakit atau tidak berdaya untuk berhijrah. . Nabi Muhammad, para sahabat, dan kaum Muslim hijrah dari Mekkah ke Madinah Yatsrib pada 622 M. Peristiwa ini jadi amat penting dan merupakan peristiwa terbesar dalam sejarah Islam. Bukan untuk rekreasi, Nabi Muhammad meninggalkan kota Mekkah menuju Madinah untuk memenuhi perintah-Nya dalam menegakkan agama berasal dari bahasa Arab hajara-yahjuru yang berarti meninggalkan negeri asal atau berimigrasi. Dalam konteks peristiwa hijrah Nabi Muhammad, hal ini berarti berpindahnya keluar Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan kaum Muslimin dari Mekkah menuju suasana di Kota Makkah, Arab Saudi IDN Times/Umi Kalsum Perjalanan dakwah Nabi Muhammad tidak selalu berjalan mulus. Kaum Quraisy melakukan berbagai cara untuk menghalangi dakwah Nabi Muhammad di Mekkah. Bahkan, mereka juga berniat untuk membunuh Nabi Muhammad dan gak selalu "gak berjalan mulus", dakwah Nabi Muhammad di Mekkah tetap membuahkan hasil. Pasalnya, pada tahun 620 M, ada 6 orang dari Kabilah Khazraj, kaum Yatsrib yang sedang berziarah. Mereka menyatakan masuk Islam dan menyambut baik ajakan Nabi Muhammad. Nantinya, mereka inilah yang akan memberitahu kepada masyarakat Madinah mengenai adanya ajaran Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah adalah adanya perintah Allah SWT. Hal ini seperti dilansir dari Ibnu Abbas, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِمَكَّةَ ثُمَّ أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ فَنَزَلَتْ عَلَيْهِ وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِى مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا Artinya “Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulunya di Mekkah dan beliau diperintahkan untuk berhijrah, lantas turunlah ayat yang artinya, 'Dan katakanlah 'Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah pula aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong' QS. Al Isra’ 80.” HR. Tirmidzi no. 3139 dan Ahmad 1 223. Imam Tirmidzi dan Al Hakim mensahihkan hadis ini, juga disetujui oleh Adz Dzahabi. Peristiwa hijrah ini terlaksana setelah Nabi Muhammad mengetahui niat kaum Quraisy yang akan membunuhnya. Niat keji tersebut muncul saat kaum Quraisy mendengar rencana Nabi Muhammad yang memerintah sahabat untuk hijrah ke Madinah setelah perjanjian Aqabah I dan Aqabah II. Saat itu, banyak orang-orang Yatsrib yang memeluk Islam, ditandai dengan dua perjanjian hijrah Nabi Muhammad pun cukup dramatis. Ali bin Abi Thalib diberitahu Nabi Muhammad untuk berbaring di tempat tidur, menggantikan Nabi Muhammad sambil mengenakan selimut, dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan menjaga Ali. Lantas, kaum Quraisy yang sudah mengepung rumah Nabi Muhammad justru mendapati Ali, bukan Nabi Muhammad. Dengan izin Allah, Nabi Muhammad berhasil selamat dari pengepungan, meski pemuda Quraisy merasa kecewa karena nafsunya untuk membunuh Nabi Muhammad telah gagal. Baca Juga Hukum Badal Haji untuk Orang yang Sudah Meninggal 2. Nabi Muhammad sampai di Madinah, mulai membangun pemerintahan Islam Kota Madinah. IDN Times/Uni Lubis Setelah 13 tahun berdakwah di Mekkah, Nabi Muhammad berhasil hijrah menuju Madinah bersama para sahabat dan kaum Muslimin lainnya untuk menegakkan ajaran Islam. Namun, perjuangan Nabi Muhammad hingga tiba di Madinah tidak mudah. Beberapa tempat yang Nabi Muhammad singgahi sebelum sampai di Madinah di antaranya Gua Tsur dan desa hijrah Nabi Muhammad SAW menuju Madinah disambut hangat oleh masyarakat Madinah. Seluruh kaum Anshar menunggu dan menyambutnya. Mereka sangat menantikannya. Gelar kaum Anshar diberikan langsung oleh Nabi Muhammad kepada masyarakat Madinah saat itu, sedangkan kaum Muslimin yang ikut Nabi Muhammad hijrah ke Madinah disebut kaum Muhajirin. Menurut bahasa, anshar adalah 'orang-orang yang menolong'. Saat di Madinah, Nabi Muhammad mulai menyusun dan melaksanakan beberapa strategi sebagai bagian dari dakwahnya. Dilansir buku Sirah Nabawiyah karya Zulyadain dan Fitrah 2021, beberapa hal yang dilakukan Nabi Muhammad dalam membentuk masyarakat Islam di Madinah, yakni Mendirikan masjid. Membuat perjanjian, yakni Piagam Madinah. Piagam ini bertujuan untuk mengatur kehidupan bersama di Madinah yang berisi penduduk Muslim maupun non-Muslim. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dengan menikahkan kalangan Muhajirin dengan kalangan Anshar. 3. Hikmah hijrahnya Nabi Muhammadilustrasi Nabi Muhammad SAW IDN Times/Aditya Pratama Peristiwa hijrah Nabi Muhammad menuju Madinah memiliki hikmah yang sangat besar. Bahkan, umat Muslim yang hidup kini merasakan dampaknya. Salah satunya dengan adanya kalender tahun Hijrah dimulai sejak masa Umar bin Khattab memimpin dan tahun pertamanya adalah saat Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Dilansir salah satu manfaat berkalender Hijriah berarti kamu bisa dengan mudah mengetahui waktu-waktu ibadah, misalnya tentang pelaksanaan ibadah hanya bisa meningkatkan keimanan kepada Allah SWT, hingga kini kamu juga bisa menikmati rezeki yang tiada tara, yakni ilmu tentang Islam yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad. Peristiwa hijrah ini juga menjadi pertanda didirikannya masjid pertama sebagai tempat peribadatan dan kegiatan kaum Muslimin, yakni Masjid Quba. Selain itu, pemerintahan Islam yang dibangun Nabi Muhammad juga kerap sebagai percontohan di masa berat karena harus mengorbankan banyak hal, Nabi Muhammad SAW tetap semangat untuk menegakkan agama Islam dengan berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Semoga dengan mengetahui kisah hijrah Nabi Muhammad SAW ini, umat Muslim senantiasa dapat terus beriman kepada Allah SWT. Penulis Fanny Haristianti Baca Juga Doa Hari Arafah yang Wajib Dibaca saat Pergi Haji! taufik sentana Eduaksi Wednesday, 03 Aug 2022, 1404 WIB Dok. Pixabay Hikmah Hijrah Nabi Ke Madinah === Ada beberapa catatan penting tentang peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah Yatsrib. 1. Hijrah sebagai perintah Allah Subhanahu Wata'ala, sebagaimana beberapa Nabi sebelumnya juga berhijrah, seperti Nabi Ibrahim AS. 2. Skema Hijrah itu sudah dimulai" sejak bait 1 dan 2 oleh beberapa warga madinah di Aqah pada musim haji, dua tahun sebelumnya. Opini publik tentang kenabian Muhammad sudah semakin kuat di Madinah, dan itu sudah pasti mengganggu banyak kepentingan para pemuka kaum. 3. Penyiksaan yang semakin berat yang diterima oleh pengikut Nabi dan rencana pembunuhannya yang nyata. 4. Sebagai bentuk siyasah dakwah dan strategi berfikir cepat dan efektif dalam mencapai kemenangan tapak-tilas hijrah Nabi menunjukkan betapa rapi Nabi mengatur persiapan, dari sembunyi, logistik, informan dan pendukung di Madinah. 5. Hijrah juga sebagai ujian keimanan setelah mereka diuji dengan siksaan, boikot dan mu'jizat isra mi'raj. Yang berhijrah beresiko kehilangan nyawa, harta dan benda, termasuk ladang/perniagaan di Makkah. 6. Ada dua kali Hijrah ke Habsyah, Etiopia, sebelum ke Madinah sebagai bentuk diplomasi politik yang efektif. 7. Yatsrib menjadi "Kota yang tertib" dan bercahaya setelah Nabi hijrah ke Madinah kota yang beradab dalam landasan Iman dan meletakkan dasar Masyarakat Islam yang kuat dalam bentuk konstitusi/piagam Madinah. 8. Madinah bersanding sebagai Kota Dunia, melebihi Kota Persia dan Romawi, atau bahkan kerajaan Hindi. 9. Momen persatuan antar-muhajirin dan anshar. 10. Inspirasi Perjuangan bagi penegak dan penerus estafet Risalah. 11. Menjadi tonggak penanggalan khas versi Islam sejak kekhalifahan Umar Bin Khattab, menjadi sistem penanggalan hijriyah. hikmahhijrah Disclaimer Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku UU Pers, UU ITE, dan KUHP. Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel. Berita Terkait Terpopuler di Eduaksi Terpopuler Tulisan Terpilih Perjalanan menegangkan Muhammad saat hijrah ke Madinah Inilah kisah abadi mengenai perjalanan nabi saat meloloskan diri dari kepungan kaum Quraisy dan pergi berhijrah ke Madinah. Selama ini kisah perjalanan nabi belum banyak diksahkan dengan item. Umat Islam kebanyakan hanya tahu setelah lolos dari Makah dia kemudian ke Madinah. Dan di sana, sebelum tiba di Madinah Nabi Muhammad mendirikan masjid Quba, serta sesampainya di Madinah mendirikan masjid Nabawi. Itu saja. Namun dalam tulisan’Sejarah Muhammad’ yang ditulis Muhammad Husain Haekal, perjalanan hijrah Rasullah ditulis lebih detil. Ini sangat membantu menjelaskan apa saja yang terjadi pada saat Rasullah Saw yang ditemani Abu Bakar melakukan perjalanan itu yang berbeda dengan biasnya karena memakai rute memutar untuk menghindari kejaran kum Qurayis. Maka perjalanan menjadi lebih panjang dan lama dari biasanya yang kalau ditempuh dengan berjalan kaki dan naik unta hanya memakan waktu dua pekan lamanya. Begini tulisan tersebut ————- Tentang pengejaran Quraisy terhadap Muhammad untuk dibunuh itu serta tentang cerita gua tsur saat peristiwa hijrah ke Madinah ada firman Tuhan demikian “Ingatlah tatkala orang-orang kafir Quraisy itu berkomplot membuat rencana terhadap kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik.” Alquran, 8 30 “Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang telah menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang kafir Quraisy. Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu ia berkata kepada temannya itu Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka Tuhan lalu memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan Bijaksana.” Alquran, 9 40 Pada hari ketiga, bila mereka berdua sudah mengetahui, bahwa orang sudah tenang kembali mengenai diri mereka, orang yang disewa tadi datang membawakan unta kedua orang itu serta untanya sendiri. Juga Asma, puteri Abu Bakr datang membawakan makanan. Oleh karena ketika mereka akan berangkat tak ada sesuatu yang dapat dipakai menggantungkan makanan dan minuman pada pelana barang, Asma, merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya dipakai menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan. Karena itu ia lalu diberi nama “dhat’n-nitaqain” yang bersabuk dua. Mereka berangkat. Setiap orang mengendarai untanya sendiri-sendiri dengan membawa bekal makanan. Abu Bakr membawa lima ribu dirham dan itu adalah seluruh hartanya yang ada. Mereka bersembunyi dalam gua itu begitu ketat. Karena mereka mengetahui pihak Quraisy sangat gigih dan hati-hati sekali membuntuti, maka dalam perjalanan ke Yathrib itu mereka mengambil jalan yang tidak biasa ditempuh orang. Abdullah bin Uraiqit – dari Banu Du’il – sebagai penunjuk jalan, membawa mereka hati-hati sekali ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah. Oleh karena mereka melalui jalan yang tidak biasa ditempuh orang, di bawanya mereka ke sebelah utara di seberang pantai itu, dengan agak menjauhinya, mengambil jalan yang paling sedikit dilalui orang. Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas kendaraan. Tidak lagi mereka pedulikan kesulitan, tidak lagi mereka mengenal lelah. Ya, kesulitan mana yang lebih mereka takuti daripada tindakan Quraisy yang akan merintangi mereka mencapai tujuan yang hendak mereka capai demi jalan Allah dan kebenaran itu! Memang, Muhammad sendiri tidak pernah mengalami kesangsian, bahwa Tuhan akan menolongnya, tetapi “jangan kamu mencampakkan diri ke dalam bencana.” Allah menolong hambaNya selama hamba menolong dirinya dan menolong sesamanya. Mereka telah melangkah dengan selamat selama dalam gua. Akan tetapi apa yang dilakukan Quraisy bagi barangsiapa yang dapat mengembalikan mereka berdua atau dapat menunjukkan tempat mereka, wajar sekali akan menarik hati orang yang hanya tertarik pada hasil materi meskipun akan diperoleh dengan jalan kejahatan. Apalagi jika kita ingat orang-orang Arab Quraisy itu memang sudah menganggap Muhammad musuh mereka. Dalam jiwa mereka terdapat suatu watak tipu-muslihat, bahwa membunuh orang yang tidak bersenjata dan menyerang pihak yang tak dapat mempertahankan diri, bukan suatu hal yang hina. Jadi, dua orang itu harus benar-benar waspada, harus membuka mata, memasang telinga dan penuh kesadaran selalu. Dugaan kedua orang itu tidak meleset. Sudah ada orang yang datang kepada Quraisy membawa kabar, bahwa ia melihat serombongan kendaraan unta terdiri dari tiga orang lewat. Mereka yakin itu adalah Muhammad dan beberapa orang sahabatnya. Waktu itu Suraqa bin Malik bin Ju’syum hadir. “Ah, mereka itu Keluarga sianu,” katanya dengan maksud mengelabui orang itu, sebab dia sendiri ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Sebentar ia masih tinggal bersama orang-orang itu. Tetapi kemudian ia segera pulang ke rumahnya. Disiapkannya senjatanya dan disuruhnya orang membawakan kudanya ke tengah-tengah wadi supaya waktu ia keluar nanti tidak dilihat orang. Selanjutnya dikendarainya kudanya dan dipacunya ke arah yang disebutkan orang itu tadi. Sementara itu Muhammad dan kedua temannya sudah mengaso di bawah naungan sebuah batu besar, sekadar beristirahat dan menghilangkan rasa lelah sambil makan-makan dan minum, dan sekadar mengembalikan tenaga dan kekuatan baru. Matahari sudah mulai bergelincir, Muhammad dan Abu Bakr pun sudah pula mulai memikirkan akan menaiki untanya mengingat bahwa jaraknya dengan Suraqa sudah makin dekat. Dan sebelum itu kuda Suraqa sudah dua kali tersungkur karena terlampau dikerahkan. Tetapi setelah penunggang kuda itu melihat bahwa ia sudah hampir berhasil dan menyusul kedua orang itu – lalu akan membawa mereka kembali ke Makkah atau membunuh mereka bila mencoba membela diri – ia lupa kudanya yang sudah dua kali tersungkur itu, karena saat kemenangan rasanya sudah di tangan. Akan tetapi kuda itu tersungkur sekali lagi dengan keras sekali, sehingga penunggangnya terpelanting dari punggung binatang itu dan jatuh terhuyung-huyung dengan senjatanya. Lalu diramalkan oleh Suraqa bahwa itu suatu alamat buruk dan dia percaya bahwa sang dewa telah melarangnya mengejar sasarannya itu dan bahwa dia akan berada dalam bahaya besar apabila sampai keempat kalinya ia terus berusaha juga. Sampai di situ ia berhenti dan hanya memanggil-manggil “Saya Suraqa bin Ju’syum! Tunggulah, saya mau bicara. Demi Allah, tuan-tuan jangan menyangsikan saya. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan tuan-tuan.” Setelah kedua orang itu berhenti melihat kepadanya, dimintanya kepada Muhammad supaya menulis sepucuk surat kepadanya sebagai bukti bagi kedua belah pihak. Dengan permintaan Nabi, Abu Bakr lalu menulis surat itu di atas tulang atau tembikar yang lalu dilemparkannya kepada Suraqa. Setelah diambilnya oleh Suraqa surat itu ia kembali pulang. Sekarang, bila ada orang mau mengejar Muhajir Besar itu olehnya dikaburkan, sesudah tadinya ia sendiri yang mengejarnya. Muhammad dan kawannya itu kini berangkat lagi melalui pedalaman Tihama dalam panas terik yang dibakar oleh pasir sahara. Mereka melintasi batu-batu karang dan lembah-lembah curam. Dan sering pula mereka tidak mendapatkan sesuatu yang akan menaungi diri mereka dari letupan panas tengah hari tak ada tempat berlindung dari kekerasan alam yang ada di sekitarnya, tak ada keamanan dari apa yang mereka takuti atau dari yang akan menyerbu mereka tiba-tiba, selain dari ketabahan hati dan iman yang begitu mendalam kepada Tuhan. Keyakinan mereka besar sekali akan kebenaran yang telah diberikan Tuhan kepada RasulNya itu. Selama tujuh hari terus-menerus mereka dalam keadaan serupa itu. Mengaso di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir. Hanya karena adanya ketenangan hati kepada Tuhan dan adanya kedip bintang-bintang yang berkilauan dalam gelap malam itu, membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman. Keterangan foto Salah satu jalan setapak yang menjadi rute nabi Muhammad Saw berhijrah yang berada di tengah padang pasir. Bilamana kedua orang itu sudah memasuki daerah kabilah Banu Sahm dan datang pula Buraida kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah perasaan kuatir dalam hatinya mulai hilang. Yakin sekali mereka pertolongan Tuhan itu ada. Jarak mereka dengan Yathrib kini sudah dekat sekali. Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah tersiar di Yathrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya. Orang pun sudah akan dapat mengira-ngirakan, betapa dalamnya hati mereka itu terangsang tatkala mengetahui, bahwa orang-orang terkemuka Yathrib yang sebelum itu belum pernah melihat Muhammad sudah menjadi pengikutnya hanya karena mendengar dari sahabat-sahabatnya saja, kaum Muslimin yang gigih melakukan dakwah Islam dan sangat mencintai Rasulullah itu. Sa’id bin Zurara dan Mush’ab bin Umair sedang duduk-duduk dalam salah sebuah kebun Banu Zafar. Beberapa orang yang sudah menganut Islam juga berkumpul di sana. Berita ini kemudian sampai kepada Sa’d bin Mu’adh dan Usaid bin Hudzair, yang pada waktu itu merupakan pemimpin-pemimpin golongannya masing-masing. “Temui dua orang itu,” kata Said kepada Usaid, “yang datang ke daerah kita ini dengan maksud supaya orang-orang yang hina-dina di kalangan kita dapat merendahkan keluarga kita. Tegur mereka itu dan cegah. Sebenarnya Said bin Zurara itu masih sepupuku dari pihak ibu, jadi saya tidak dapat mendatanginya.” Usaidpun pergi menegur kedua orang itu. Tapi Mush’ab menjawab “Maukah kau duduk dulu dan mendengarkan?” katanya. “Kalau hal ini kau setujui dapatlah kau terima, tapi kalau tidak kau sukai maukah kau lepas tangan?” “Adil kau,” kata Usaid, seraya menancapkan tombaknya di tanah. Ia duduk dengan mereka sambil mendengarkan keterangan Mush’ab, yang ternyata sekarang ia sudah menjadi seorang Muslim. Bila ia kembali kepada Sa’d wajahnya sudah tidak lagi seperti ketika berangkat. Hal ini membuat Sa’d jadi marah. Dia sendiri lalu pergi menemui dua orang itu. Tetapi kenyataannya ia seperti temannya juga. Karena pengaruh kejadian itu Sa’d lalu pergi menemui golongannya dan berkata kepada mereka “Hai Banu Abd’l-Asyhal. Apa yang kamu ketahui tentang diriku di tengah-tengah kamu sekalian?” “Pemimpin kami, yang paling dekat kepada kami, dengan pandangan dan pengalaman yang terpuji,” jawab mereka. “Maka kata-katamu, baik wanita maupun pria bagiku adalah suci selama kamu beriman kepada Allah dan RasulNya.” Sejak itu seluruh suku Abd’50-Asyhal, pria dan wanita masuk Islam. Ilustrasi peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Foto Pixabay/OpenClipart-VectorsJelaskan dua hikmah dibalik peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah! Seperti yang kita ketahui, Rasulullah SAW bersama para sahabat melaksanakan hijrah dari Makkah ke Madinah. Hal ini dikarenakan beliau dan umatnya mendapatkan tekanan dan yang sangat besar dari kafir Quraisy. Apabila beliau melaksanakan dakwah secara terbuka, berbagai ancaman diarahkan dan para pengikutnya. Selain itu, untuk melindungi dakwah agama Islam, Rasulullah SAW harus meninggalkan tanah kelahirannya. Maka dari itu, Rasulullah SAW dan umatnya hijrah ke umat Muslim, kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari peristiwa bersejarah tersebut. Apa sajakah itu? Berikut Hikmah di Balik Peristiwa Hijrah Rasulullah SAWHijrah adalah tuntutan penting dakwah kepada Allah SWT. Hijrahnya Rasulullah SAW berasal saat Khadijah membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal dan mengabarkan kepadanya tentang wahyu Allah yang baru saja turun kepadanya. Saat itu, Waraqah berkata kepada beliau, “Andai saja aku masih hidup saat itu, yaitu ketika kaummu mengusir dirimu”.Bermula dari sinilah Rasulullah SAW sadar bahwa dirinya akan diusir dari tanah kelahirannya. Ini menandakan bahwa pertolongan Allah di dunia dan pahala-Nya di akhirat akan diperoleh seorang hamba hanya dengan kerja keras, pengorbanan, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, dan penyandaran diri sepenuhnya kepada Allah dengan memanjatkan doa dan memohon pertolongan hanya banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Seperti yang dijelaskan Prof. Dr. Muhammad Amahzun dalam buku Manhaj Dakwah Rasulullah 2006, 2 hikmah dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW yakniIlustrasi hikmah dari hijrahnya Rasulullah SAW. Foto Pixabay/rauschenberger1. Ajaran Islam Diturunkan untuk Mengatur Kehidupan Manusia dalam Segala AspekAjaran agama Islam merupakan undang-undang yang meliputi segala sesuatu secara komperhensif yang memerlukan umat dan wilayah untuk tempat hukum-hukum Allah itu di tegakkan. Umat Islam tidak akan memiliki perhimpunan yang efektif kecuali dengan terpenuhinya beberapa hal, yakniBila Islam sudah mewarnai seluruh sendi kehidupan seluruh sistem, hukum, dan norma-norma Islam menjadi satu-satunya yang ditaati dibumi syiar-syiar Islam ditegakkan di bumi mereka dan akidahnya mewarnai seluruh situasi dan kondisi tetapi, apabila kaum muslimin justru tidak mampu menerapkan hukum-hukum agama mereka dan tidak berdaya untuk memberlakukan sistem politik, sosial, ekonomi dan etika perilaku Islam di negeri mereka sendiri, maka mereka wajib berpindah ke negera yang menerapkan hukum-hukum dan norma-norma Islam dalam rangka memperbanyak jumlah kekuatan umat Islam, memperkokoh agama, dan mempersiapkan diri untuk menolong dan memperjuangkannya dengan diri dan harta jika tak mendapatkan satu pun negeri yang memenuhi syarat ini, maka kaum muslimin wajib berkumpul dalam satu tanah kosong yang tepat, di mana mereka dapat menegakkan sistem Islam secara utuh dan sempurna dan anggota masyarakatnya dapat saling bekerja sama mendukung dakwahnya dan menempuh pelbagai sebab dan sarana yang diperlukan untuk merealisasikan ajaran Keikhasan dalam Meninggalkan Sesuatu yang Dicintai karena Allah SWTBergegasnya para sahabat melaksanakan perintah Rasulullah SAW terhadap hijrah ke Madinah dengan meninggalkan anak, harta, dan tanah air. Tidak ada yang tertinggal di Makkah kecuali orang yang dikehendaki Rsulullah SAW untuk tinggal, atau memang bertahan atau memiliki uzur lainnya, dan jumlah mereka sangat ini mengingatkan kita untuk melaksanakan perintah Rasulullah SAW dan berhati-hati dari mengingkarinya berdasarkan firman Allah Ta’ala,لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung kepada kawannya, maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” QS. An-Nuur 63Hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah adalah peristiwa besar dalam agama Islam. Berbagai hal yang harus dikorbankan untuk bisa menjalankan perintah dan menyebarkan syariat-syariat Allah SWT. Meski demikian, itulah yang membuat Rasulullah SAW dan para sahabat memiliki tempat spesial dalam agama Islam.MZM Umat Islam di kota Madinah segera menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, segera setelah perjanjian Aqabah ke-2 dilakukan. Jumlah umat Islam di Madinah yang sudah cukup banyak meningkatkan percaya diri dan optimisme untuk menjadi Anshar, penolong dan pelindung Rasulullah serta para sahabat Muhajirin. Dan Maha Sempurna Allah dengan segala ketetapan takdir-Nya. Dialah yang menyiapkan kondisi Kota Madinah setelah sebelumnya membekali ketangguhan iman dan mental umat Islam dengan kondisi Mekah yang sulit dan mengancam nyawa. Dialah pula yang menentukan waktu yang tepat bagi Rasul-Nya dan umat Islam untuk memulai fase madani. Allah izinkan Nabi dan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib, Madinah al-Munawwarah. Semua para sahabat yang mampu untuk hijrah, maka wajib bagi mereka berhijrah. Yang lemah dan yang kuat, yang miskin dan yang kaya, laki-laki maupun wanita, dari kalangan merdeka atau hamba sahaya, semua menyambut perintah Allah Ta’ala. “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, kepada mereka malaikat bertanya “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri Mekah”. Para malaikat berkata “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan untuk hijrah, mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. An-Nisa 97-100 Hijrah Tak Sekedar Pindah Saat ini, sebagian umat Islam, ketika mendengar kata hijrah atau peristiwa hijrah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Mekah ke Madinah, menganggapnya sebagai suatu perpindahan biasa, layaknya migrasi penduduk dengan segala kerepotannya. Padahal tidaklah semudah itu. Ini adalah perjuangan yang besar. Bentuk perlawanan terhadap kaum musyrikin Mekah bahkan Jazirah Arab secara umum. Kehilangan nyawa sebuah resiko yang begitu terpapar di depan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Hijrah bukanlah melarikan diri. Hijrah adalah persiapan membekali diri untuk kehidupan akhirat. Karena itulah, Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik surga. Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat surga yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” QS. Al-Hajj 58-59. Ditambah lagi, Nabi shallallahu alaihi wa sallambarulah berhijrah tatkala semua sahabatnya telah berangkat menuju Madinah. Hal ini semakin menguatkan bahwa hijrah bukanlah bentuk melarikan diri. Nabi shallallahu alaihi wa sallam jauh lebih mementingkan keselamatan dan keamanan umatnya dibanding keselamatan dirinya. Inilah jiwa seorang pemimpin. Seorang nahkoda bukanlah orang yang pertama meninggalkan kapal saat ia akan karam. Ia akan menjadi yang terakhir keluar setelah memastikan awak dan penumpangnya selamat terlebih dahulu. Tidaklah tersisa di Mekah kecuali Rasulullah, Abu Bakar, dan Ali bin Abi Thalib sebagai orang-orang yang paling akhir menempuh perjalanan. Ada beberapa hal yang bisa dicermati dari peristiwa hijrah Pertama, hijrahnya umat Islam secara menyeluruh terjadi setelah pintu dakwah sudah tertutup di Mekah. Hijrah ke Madinah bukanlah hijrah yang pertama dialami umat Islam. Sebelumnya sebagian sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menempuh dua kali hijrah ke negeri Habasyah. Kesempatan untuk berdakwah di Mekah begitu kecil atau bahkan tertutup. Mengapa tertutup? Karena orang-orang kafir Quraisy berencana untuk membunuh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, tiga tahun sebelum hijrah. Saat itulah, strategi hijrah mulai disusun oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sejak mula, dakwah di Mekah memang sudah sulit. Namun Allah Ta’ala tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk berhijrah. Hingga akhirnya pintu tersebut mulai dirasa begitu rapat, barulah Allah perintahkan Rasul-Nya dan umat Islam untuk berhijrah. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran yang begitu mendalam, ketika pintu dakwah masih terbuka walaupun dirasa sulit, maka kita hendaknya berusaha mengajak orang-orang kepada kebenaran. Kedua, saat seluruh umat Islam melakukan hijrah, maka Madinah yang dipilih menjadi tujuan bukan Habasyah. Kota tujuan hijrah bisa saja bukan Kota Madinah jika Bani Syaiban atau Bani Hanifah atau Bani Amir beriman. Namun Allah Ta’ala menginginkan Madinah seabgai tempat hijrah Nabi-Nya. Kultur masyarakat Madinah yang merupakan bangsa Arab, tidak jauh berbeda dengan masyarakat Mekah sehingga para sahabat tidak begitu kesulitan untuk beradaptasi. Jaminan keamanan di Madinah pun lebih besar dibandingkan di Habasyah. Di Habasyah, hanya An-Najasyi yang beriman, jika ia wafat, maka keselamatan kaum muslimin kembali terancam. Selain itu, terbentuknya negara Islam lebih besar peluangnya di Madinah dibanding Habasyah. Ketiga, umat Islam diperintahkan menuju tempat yang sama untuk berhijrah. Dalam syariat hijrah kali ini. Komunitas umat Islam Mekah diperintahkan menuju daerah yang satu bukan dibebaskan menuju daerah manapun yang mereka inginkan. Banyak sekali faidah dari hal ini. Di antaranya kebersamaan dan kekeluargaan tetap terjaga. Keselataman lebih terpelihara dibandikan satu orang menuju satu negeri lainnya. Lebih mudah beradaptasi. Keimanan juga terjaga dengan berkumpulnya mereka dengan orang-orang beriman lainnya. Dll. [IslamPos]

berikut hikmah dibalik peristiwa hijrah ke madinah kecuali