AbuDardā al-Anṣhāri (Bahasa Arab:أبو الدرداء الأنصاري) adalah Sahabat Nabi Muhammad.. Biografi. Pada awalnya, Dia adalah seorang Yahudi di Madinah.Kemudian setelah Ia mendengarkan dakwah Nabi Muhammad, Dia memeluk Islam.Ia pernah ditawarkan oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk menjadi hakim di Suriah, tetapi ditolaknya.Kemudian Khalifah memintanya untuk mengajarkan Islam Kalimatpembuka itu membuat Salman Al-Farisi dan Abu Darda' cemas. "Karena kalian berdua datang mengharap ridho Allah, saya menyampaikan, putri kami menjawab iya jika Abu Darda yang berkeinginan melamar untuk dirinya," katanya. Bagai petir di siang bolong. Sangat mengagetkan. Lamaran Salman ditolak tapi kalau Abu Darda' melamar untuk Sungguh keislaman Salman adalah keislaman pilih tanding. Kezuhudan, kecerdasan, dan ketakwaannya sangat mirip dengan umar bin Khaththab ra. la pernah tingal bersama Abu Darda selama beberapa hari. Abu Darda selalu berpuasa di siang hari dan menghabiskan malam untuk shalat tahajud. Melihat kondisi Abu Darda seperti itu. Kenalisiapa dia sahabat bernama Salman Al-Farisi Abu hurairah new daffashafwan. Abu hurairah daffashafwan. Salman al Farisi (r) in Quest for Truth hilalplaza Dipersaudarakan dengan Abu Darda' 6. Idea Perang baru diperkenal kan 7. Mendamba rumah di Syurga TokohTokoh ilmuwan pada masa Rasulullah SAW lebih terfokus pada Al-Quran antara lain Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Sabit, kemudian ada Salman al-Farisi yang ahli strategi perang. 2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan oleh Kaum Muslim pada Zaman Khulafa' Ar-Rasyidin Pada zaman ini umat Muslim hidup bersama para sahabat Nabi yang disebut Nabi AbuDarda pun menatap gelisah pada wajah ayah si gadis. Dan tak begitu lama semua menjadi jelas ketika terdengar suara lemah lembut keibuan sang bunda yang mewakili putrinya untuk menjawab pinangan Salman Al Farisi. "Mohon maaf kami perlu berterus terang," kalimat itu membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda berdebar tak sabar. . JAKARTA — Para sahabat mendapatkan pendidikan secara langsung dari Rasulullah SAW. Mereka setiap harinya melihat secara langsung keagungan pribadi sang junjungan. Karenanya tak heran, apabila begitu mengagumkan akhlak para sahabat ini. Seperti kisah yang dialami sahabat Rasulullah SAW, Salman al-Farisi. Salman al-Farisi. Ia merupakan seorang mantan budak dari Isfahan Persia. Kisah cinta Salman terjadi saat ia tinggal di Madinah setelah menjadi Muslim dan menjadi salah satu sahabat dekat Rasulullah. Pada suatu waktu, Salman berkeinginan untuk menggenapkan dien dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menyukai seorang wanita salihah dari kalangan Anshar. Namun, ia tak berani melamarnya. Sebagai seorang imigran, ia merasa asing dengan tempat tinggalnya, Madinah. Bagaimana adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah? Bagaimana tradisi Anshar saat mengkhitbah wanita? Demikian yang dipikirkan Salman. Ia tak tahu-menahu mengenai budaya Arab. Tentu saja tak bisa sembarangan tiba-tiba datang mengkhitbah wanita tanpa persiapan matang. Salman pun kemudian mendatangi seorang sahabatnya yang merupakan penduduk asli Madinah, Abu Darda’. Ia bermaksud meminta bantuan Abu Darda’ untuk menemaninya saat mengkhitbah wanita impiannya. Mendengarnya, Abu Darda’ pun begitu girang. “Subhanallah wa alhamdulillah,” ujarnya begitu senang mendengar sahabatnya berencana untuk menikah. Ia pun memeluk Salman dan bersedia membantu dan mendukungnya. Setelah beberapa hari mempersiapkan segala sesuatu, Salman pun mendatangi rumah sang gadis dengan ditemani Abu Darda’. Keduanya begitu gembira. Setiba di rumah wanita salihah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah. “Saya adalah Abu Darda’ dan ini adalah saudara say,a Salman dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Bahkan, Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait keluarga-nya,” ujar Abu Darda’ menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih. “Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri Anda,” katanya melanjutkan kepada wali si wanita menjelaskan maksud kedatangan mereka. Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya. “Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita. Namun, sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Meski yang datang adalah seorang sahabat Rasul, sang ayah tetap meminta persetujuan sang putri. “Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” ujarnya kepada Abu Darda’ dan Salman al-Farisi. Sang tuan rumah pun kemudian memberikan isyarat kepada istri dan putrinya yang berada di balik hijab. Rupanya, putrinya telah menanti memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. Mewakili sang putri, ibunya pun berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” katanya membuat Salman dan Abu Darda’ tegang menanti jawaban. “Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” jawab ibu si wanita tentu saja akan menghancurkan hati Salman. Namun, Salman tegar. Tak sampai di situ, sang ibunda melanjutkan jawaban putrinya. “Namun, karena kalian berdualah yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda’ memiliki keinginan yang sama, seperti Salman,” kata ibu si wanita salihah idaman Salman yang diinginkannya untuk menjadi istri. Namun, justru wanita itu memilih Abu Darda’, yang hanya menemani Salman. Jika seperti pria pada umumnya maka hati Salman pasti hancur berkeping-keeping. Ia akan merasakan patah hati yang teramat sangat. Namun, Salman merupakan pria saleh, seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah. Dengan ketegaran hati yang luar biasa, ia justru menjawab, “Allahu akbar!” seru Salman girang. Tak hanya itu, Salman justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan kuberikan semua kepada Abu Darda’. Aku juga akan menjadi saksi pernikahan kalian,” ujar Salman dengan kelapangan hati yang begitu hebat. Demikian kisah cinta sahabat Rasulullah yang mulia, Salman al-Farisi. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut. Ketegaran hati Salman patut dijadikan uswah. Ia pun tak kecewa dengan apa yang belum ia miliki meski ia sangat menginginkannya. Semoga Allah meridhai Salman dan menempatkannya pada surga yang tertinggi. sumber Islam Digest Republika

salman al farisi abu darda